Baca Juga: Shinta Ratri, Pejuang Hak dan Pendiri Ponpes Waria Meninggal Dunia
Sejak saat itu, warga adat berupaya mengingatkan pemerintah untuk segera menutup TPA atau memperbaiki tata kelola TPA, namun teriakan rakyat jelata tetap saja terabaikan.
Pemerintah terus membuang sampah ke Leuwigajah, hingga puncaknya petaka bencana longsor terjadi menimpa warga. Ratusan nyawa melayang bahkan sebagian jasadnya hilang hingga kini.
“Air ini dari mata air atah seke Gunung Pasir Panji, Mata air itu dulu tercemar air lindi. Seiring berjalannya waktu, alam memulihkan diri sendiri,” ucap Abah Widi menerangkan sesajian apa saja pelengkap ritual hari itu.
Tempat ritual berada di tepi tebing puncak salam, nampak lahan kosong hijau di seberang tebing berdampingan dengan permukiman warga.
Lahan kosong yang sudah menghijau itu dulunya area TPA.
“Dua kampung hilang dari peta, tertimbun longsor sampah waktu itu. Sekarang bekas tumpukan sampah telah menghijau,” ucapnya.
Baca Juga: Bersikap Bodo Amat? Bagaimana Tuh...
Usai memanjatkan doa, sesajen dilarung sebagai persembahan pada warga adat Cireundeu yang telah mangkat akibat tragedi.
“Kami tidak akan pernah bisa lupa perihnya kehilangan keluarga dan saudara. Makanya tiap tahun akan selalu memeringati kejadian ini secara sederhana,” terang Abah Widi.
Melalui rangkaian ritual ini, masyarakat adat Cireundeu mengirim pesan akan pentingnya menjaga lingkungan. Mereka mengingatkan pemerintah tidak semena-mena pada kebijakan.
“Kenapa bisa terjadi?, Ternyata ini kan ada aturan yang dilanggar, konsep yang tidak benar oleh pengelola TPA ini. Dengan ritual, tujuannya mengingatkan agar kejadian 18 tahun lalu, jangan sampai terulangi lagi. Jangan tunggu petaka,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Peringati Hari Orang Sakit Sedunia, Umat Berdoa untuk Kesembuhan
Mengunyah Makanan Perlahan Dapat Cegah Diabetes dan Jantung
Escargot Hidangan Populer di Eropa yang Bermanfaat untuk Kesehatan