Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom Sukses Gelar Indonesian Scholars International Convention 2026

photo author
Muh. Jabal Nur, Tinjau Indonesia
- Selasa, 21 Juli 2026 | 19:36 WIB


TINJAUINDONESIA.ID London-Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) baru-baru ini sukses menyelenggarakan ajang riset dan kolaborasi keilmuan terbesar tahunan mereka, Indonesian Scholar International Convention (ISIC) ke-24. Mengusung tema Navigating Indonesia at the Crossroads of Multifaceted Global Uncertainties, PPI UK mencoba memantik semangat kolaboratif, bukan hanya pelajar, tetapi juga para akademisi dan diaspora Indonesia di UK yang tersebar di beberapa kota. Semangat intelektual tersebut tumpah ruah memadati Bush House, King's College London, sepanjang siang hingga sore hari, Sabtu, 18 Juli 2026 lalu.

Ketua PPI UK 2025/2026, M. Fachrul, dalam sambutannya menekankan pentingnya pertemuan tatap muka di tengah era digital yang serba online seperti saat ini. Menurutnya, forum seperti ISIC 2026 memberi ruang diskusi yang jauh lebih mendalam dan bermakna dibandingkan interaksi virtual, karena memungkinkan pertukaran gagasan secara langsung, layaknya tradisi dialog Socrates yang mengedepankan pertanyaan kritis dan pertukaran argumen untuk menemukan kebenaran bersama (dialektika Socrates).

“Terima kasih kepada semua pihak dan sponsor yang mendukung pertemuan ini. Pertemuan tatap muka seperti ISIC 2026 itu penting karena mendorong diskusi mendalam seperti dialektika Socrates. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk menguji gagasan secara konstruktif, bukan kritik destruktif, guna membangun dasar bersama bagi masa depan Indonesia,” ungkap Fachrul.

Kegiatan ini menghadirkan 120 peserta dari berbagai kota di UK seperti London, Manchester, Brighton, Leicester, Lancaster, dan Southampton, dengan rangkaian acara yang variatif di bidang riset dan keilmuan. Dalam sesi Research Showcase, sebanyak 36 poster penelitian dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari STEM, Medical, hingga Social Science yang dipresentasikan dan dikurasi oleh dewan juri yang terdiri dari Dr. Rima Mustofa (University of Cambridge), Dr. Anindityo Patmonoaji (University College London), Dr. Fatimah (University College London) dan Ms. Dorothy Ferary (University College London).

Selain sesi riset, ISIC 2026 juga menghadirkan dua rangkaian diskusi panel dengan topik berbeda, menghadirkan para pakar terbaik asal Indonesia yang kini berkiprah sebagai akademisi maupun profesional di institusi-institusi terkemuka dunia. Panel pertama mengangkat tema “Building Indonesia’s Green and Resilient Future: Careers, Sustainable Finance and System Readiness in a World Full of Shocks”, menghadirkan tiga akademisi asal Indonesia, yakni Prof. Stephan Onggo (Southampton Business School), Prof. Ahmad Daryanto (Lancaster University), dan Dr. Wahyu Jatmiko (Southampton Business School).

Sementara itu, panel kedua membahas “From Frontier Research to Public Value: AI, Sustainable Mobility, Deep Tech and Indonesia’s Research Ecosystem”, dengan menghadirkan perpaduan pakar dari jalur akademik dan industri, yaitu Dr. Rhea Lim (Imperial College London), Dr. Adhiguna Kuncoro (Google DeepMind), Dr. Galih Ramadana Suwito (Quantum Solutions dan UCL), serta Prof. Agus M. Ramdhan (Institut Teknologi Bandung sekaligus atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London). Kehadiran para pembicara ini menegaskan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing dan berkontribusi nyata di garis depan riset dan inovasi global.

Syahirul Alim selaku Ketua Panitia ISIC 2026 menyebutkan bahwa sinergi semua pihak memiliki andil besar dalam kelancaran acara tahun ini. Panitia penyelenggara sendiri merupakan pelajar Indonesia yang berasal dari berbagai kota di United Kingdom, dengan latar belakang jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari sarjana hingga doktoral. Di tengah kesibukan studi masing-masing dan jarak geografis yang tidak dekat, mereka rutin terhubung melalui pertemuan daring untuk mematangkan persiapan acara ini.

"Kami berterima kasih kepada seluruh pembicara, sponsor, dan panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini sejak Februari sehingga pertemuan penting ini dapat terwujud. Acara ini diselenggarakan sebagai wadah untuk bertemu, berdiskusi, dan berkolaborasi agar gagasan-gagasan besar, termasuk pengembangan teknologi Indonesia, dapat lahir dan berkembang melalui sinergi antar peserta," ungkap Alim.

Puncak kegiatan ISIC 2026 berlangsung secara meriah melalui panel discussion dan research showcase yang digelar di Bush House, King’s College London. Suasana diskusi terasa hidup dan interaktif berkat format rotating panel, di mana peserta yang telah mendaftarkan diri berkesempatan naik ke panggung dan duduk berdampingan dengan para panelis, berdiskusi dan beradu argumen secara langsung dengan para pakar. Format ini menghadirkan dialog dua arah yang jarang ditemui di forum-forum akademik konvensional.

Semangat kolaboratif juga terasa kental di sesi research showcase, di mana poster-poster penelitian yang dipajang tidak hanya menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga alat berjejaring bagi peserta untuk saling terhubung dengan sesama peneliti atau pelajar yang memiliki minat serupa. Suasana ini menciptakan ruang jejaring yang cair, memungkinkan peserta dan pembicara berbincang secara langsung tanpa jarak maupun sekat formalitas.

Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Duta Besar Luar Biasa RI untuk Britania Raya, merangkap Irlandia dan IMO, Bapak Desra Percaya. Selain memberikan sambutan, beliau turut menyerahkan plakat penghargaan kepada para pembicara, mengambil undian doorprize bagi peserta, serta menyempatkan diri untuk menyaksikan langsung karya-karya penelitian pelajar Indonesia di UK dalam sesi research showcase. Tak hanya itu, Pak Desra juga terlihat aktif berjejaring bersama peserta, pembicara, dan panitia hingga penghujung acara, menunjukkan kedekatan dan perhatian beliau terhadap perkembangan pelajar dan diaspora Indonesia di United Kingdom.

Dalam sambutannya, beliau mengajak para pelajar dan diaspora Indonesia di UK untuk tidak sekadar menjadi penonton di tengah gejolak dunia yang serba tidak pasti, melainkan menjadi bagian dari solusi melalui penguasaan ilmu pengetahuan, integritas, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Kita menghadapi ketidakpastian global, dari politik hingga perubahan iklim dan AI, yang menuntut kepemimpinan bertanggung jawab dan kesiapan untuk bertindak. Untuk itu, fokuslah pada penguasaan ilmu, integritas, penciptaan dampak nyata, dan membangun jaringan sebagai modal utama dalam menghasilkan perubahan melalui pendidikan,” pungkas Pak Desra.

Dengan berakhirnya rangkaian acara puncak, ISIC 2026 resmi ditutup dengan membawa pulang pesan kuat bahwa di tengah dunia yang terus berubah, pendidikan dan kolaborasi lintas negara seperti yang terjalin di ISIC 2026 adalah fondasi penting bagi Indonesia untuk tetap tangguh dan relevan di panggung global.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muh. Jabal Nur

Rekomendasi

Terkini

X