Yogyakarta, tinjauindonesia.id – Isak tangis dan kesedihan mewarnai pemakaman Shinta Ratri di Pemakaman Semoyan Kotagede, Rabu (1/2/203) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
Ratusan pelayat dari berbagai kalangan dan daerah menghantarkan jenazah almarhumah Shinta Ratri ke peristirahatan terakhinya.
Shinta Ratri yang merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) para waria meninggal karena sakit di Yogyakarta, Rabu pagi.
Semasa hidup, Shinta Ratri dikenal sebagai pejuang hak bagi para waria. Sosoknya yang cerdas dan kritis, berhasil menginspirasi kawan-kawan trans menuju perubahan hidup yang lebih baik.
Baca Juga: 65 Tahun Karlina Supelli: Menemukan Allah Dalam Sains Dan Manusia
Shinta Ratri lahir 15 Oktober 1962. Hingga akhir hayatnya, almarhumah dikenal dekat dan mengayomi teman-teman waria.
Shinta Ratri mengenyam pendidikan di Fakultas Biologi UGM. Shinta Ratri juga dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan kritis. Selepas kuliah, ia memilih berbisnis dengan menekuni usaha kerajinan perak
Pasca berpulangnya Maryani, pendiri Ponpes Al Fatah, Shinta melanjutkan ide perjuangan seniornya tersebut bagi hak beribadah kelompok waria.
Baca Juga: Seabad NU, Ketua DPR Harap Peran NU Juga Dirasakan di Seluruh Dunia
Dilansir dari tinjau.id, dalam sebuah wawancara, mantan Ketua Ikatan Waria Yogyakarta tersebut menjelaskan rasanya diskriminasi bagi para waria saat hendak beribadah. Salah satunya, mendapat penolakan dari warga sehingga membuat tidak nyaman.
Keberadaan ponpes yang berada di tengah-tengah permukiman warga juga bagian dari upaya menghapus stigma negatif masyarakat terhadap waria.
Terbukti, para waria yang belajar agama di ponpesnya, bisa berbaur dengan baik dengan masyarakat sekitar.
Dalam menghidupkan ponpesnya, Shinta Ratri tak pernah surut melangkah meski menghadapi banyak penolakan. Menurutnya, pesantren adalah sekolah pertama untuk kaum transgender di mana pun.
Baca Juga: Varian Kraken, Covid-19 Yang Katanya 'Super Menular'
Artikel Terkait
Seni "Rasa" Sudjojono
Marah Roesli, Dokter Hewan Pengarang Siti Nurbaya
65 Tahun Karlina Supelli: Menemukan Allah Dalam Sains Dan Manusia
Belajar Dari Filsuf Aristoteles Soal Persahabatan
Catat Tanggalnya, ICAN Gelar Pameran Pendidikan Gratis di PIK