Jakarta, tinjauindonesia.id - Jika berjalan melewati bagian pengembangan diri, kita akan menemukan buku-buku mengenai bagaimana mencapai kebahagiaan, kepositifan, kesejahteraan, dan semacamnya.
Kutipan inspirasional di media sosial mengikuti tren yang sama. Filosofi berpikir positif telah marak tersebar. Meskipun penelitian terbaru mengungkapkan sifat tidak sehat dari menghindari emosi negatif, gelombang literatur berpikir positif terus berlanjut.
Dilansir dari tinjau.id Mark Manson hadir dengan karyanya yang menangkal sindrom tersebut: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. Buku ini begitu menonjol dengan warna sampul oranye terang.
Di dunia yang kerap meminta kita untuk menghindari emosi negatif dan memasang wajah ceria, buku ini memberikan peringatan yang nyata.
Gaya penulisan Manson lucu, jujur, dan tanpa basa-basi. Meski begitu, dia juga rentan dan tahu bagaimana rasanya mencapai titik terendah. Ia membagikan pengalamannya dengan begitu lugas hingga membuat kita merasa seperti sedang berbicara dengan seorang teman lama yang memiliki segudang pengalaman.
Salah satu kisah pribadi Manson yang sangat menarik adalah tentang impiannya menjadi bintang rock yang belum terwujud. Seperti kebanyakan dari kita, Manson pernah bermimpi menjadi seorang musisi terkenal.
Sebagian besar buku pengembangan diri memberi tahu kita untuk 'melakukan apa yang Anda sukai' atau 'menjalankan impian Anda', tetapi Manson jauh lebih jujur dan realistis dalam menjelaskan mengapa 'mimpi' itu tidak pernah menjadi kenyataan.
"Saya sebenarnya tidak pernah benar-benar menginginkannya," renungnya.
Manson tidak hanya menceritakan kisahnya sendiri. Dia mencampur memoar dengan narasi tentang berbagai subjek, dari seorang penyair alkoholik bernama Charles Bukowski, hingga bapak psikologi Amerika.
Buku ini menginspirasi untuk memikirkan hidup kita dan apa yang benar-benar kita inginkan.
Sekurangnya, ada dua hal yang menonjol dalam buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat ini.
Pertama, fokus pada apa yang benar-benar penting, atau, apa yang sebenarnya kita 'peduli'.
Kedua, salah satu hal terbaik dalam hidup adalah menikmati hal-hal sederhana. Melepaskan hak dan klaim atas 'keistimewaa'" dapat menuntun pada kebahagiaan sejati.
Beberapa ajaran dari buku ini bahkan terdengar sangat Buddhisme - terutama seruan Manson untuk menerima penderitaan. Mencerca 'hak', dan juga menggemakan konsep Buddhis tentang 'ketidakmelekatan'.
Karya Manson memang bersinggungan dengan prinsip-prinsip Buddhis, tetapi tanpa diskusi tentang manfaat meditasi atau cerita Buddhis.