Pertama, mendeteksi apakah ada kasus di negara ASEAN lain di luar Kamboja (termasuk Indonesia).
Kedua, kalau memang ada maka perlu upaya maksimal untuk mengendalikan di sumbernya (contain at the source) supaya kasus tidak keluar ke negara lain.
Pemerintah Harus Lakukan Lima Hal Ini
Ketiga, negara yang belum ada kasus perlu membentengi diri agar jangan kemasukan wabah ini.
Tjandra Yoga juga mengimbau, pemerintah perlu melakukan lima hal ini.
Pertama surveilan ketat pada unggas dan manusia untuk mendeteksi awal kalau-kalau sudah ada kasus.
Untuk unggas mendeteksinya bisa di tiga tempat, yakni peternakan, pasar ayam, dan lingkungan rumah.
Sedangkan untuk manusia maka dapat mendeteksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain. Apalagi kalau ada klaster beberapa orang dengan gejala yang sama.
Kedua, kalau ada kecurigaan kasus pada manusia dan juga hewan, maka tim yang turun ke lapangan haruslah gabungan antara kesehatan dan juga kesehatan hewan.
Ketiga, mengecek ulang kesiapan dan ketersediaan sarana diagnosis, kalau-kalau nanti diperlukan secara luas.
Keempat, mengecek ketersediaan obat flu burung dan bagaimana cara mendapatkannya, kalau-kalau suatu saat membutuhkan obat tersebut.
Kelima, bekerja sama dengan WHO memantau perkembangan kasus di berbagai negara.
“Memantau perkembangan genomik kasus pada manusia dan unggas, serta kerja sama internasional untuk ketersediaan logistik,” pungkas Tjandra Yoga.
Artikel Terkait
Perbedaan Flu dan Flu Perut