Barangkali yang kita sukai bukan perubahan, melainkan romantisme perlawanan itu sendiri. Kita menikmati kisah mahasiswa yang berteriak di jalan, tetapi takut saat melihat mereka duduk di meja tempat keputusan dibuat. Mari kita berbenah pikiran dan mental!
Memang akan ada perubahan pada seorang aktivis ketika masuk ke dalam sistem. Mungkin cara berpakaian, gaya hidup, atau lingkungannya berubah. Namun saya percaya keberpihakannya tidak serta-merta berubah. Keberpihakannya tetap kepada rakyat, kepada demokrasi, kepada keadilan sosial. Mereka hanya berpindah posisi untuk memperjuangkan nilai-nilai yang dahulu mereka teriakkan di jalanan.
Namun, apakah perubahan bisa terjadi?
Jika hanya Budiman, Adian Napitupulu, Fahri Hamzah, Nesar Patria, Agus Jabo, Faisol Riza, Mugianto, dan beberapa nama lain yang masuk ke dalam sistem, mereka sesungguhnya belum meraih kekuasaan. Mereka baru masuk ke dalam ruangnya.
Perjalanan masih panjang, Bung!
Untuk kawan-kawan yang kini berada di dalam lingkar kekuasaan, kalian sesungguhnya belum meraih kekuasaan. Teruslah berjuang. Adik-adik kalian yang hari ini turun ke jalan adalah cermin wajah kalian di masa silam. Wajah-wajah muda yang mengetuk nurani agar kalian tidak terlena.
Negara ini belum menjadi seperti yang dahulu kalian bayangkan. Termasuk hari ini.
Menelaah pikiran Plato tentang politik dan kekuasaan, ketidakpedulian orang baik terhadap politik bukanlah sikap netral. Menurutnya, hukuman bagi orang baik yang enggan berpolitik adalah dipimpin oleh orang-orang yang lebih buruk. Plato percaya bahwa negara ideal harus dipimpin oleh mereka yang bermoral dan dikuasai oleh akal budi.
Selamat berakhir pekan.
Koheng, 20 Juni 2026
By : Ano Orwels
#KopiAno