Pesantren dalam Riuh Linimasa: Catatan Pesantrenetnografi atas Isu Media Sosial

photo author
Andi Alfian, Tinjau Indonesia
- Minggu, 21 Juni 2026 | 04:47 WIB
Fahmi Arif El Muniry (Kasubtim Publikasi dan Komunikasi pada Direktorat Pesantren Kementerian Agama)
Fahmi Arif El Muniry (Kasubtim Publikasi dan Komunikasi pada Direktorat Pesantren Kementerian Agama)

TINJAUINDONESIA.ID - Beberapa waktu terakhir, saya mencoba melakukan pengamatan sederhana terhadap berbagai percakapan tentang pesantren di media sosial. Saya tidak hanya membaca berita, tetapi juga menelusuri komentar, membandingkan respons antarplatform, mengikuti diskusi para santri, alumni pesantren, aktivis, akademisi, hingga warganet yang sama sekali tidak memiliki pengalaman hidup di pesantren. Dari sana muncul sebuah kesan yang kuat bahwa pesantren hari ini tidak hanya hidup di ruang fisik, tetapi juga hidup di ruang digital.

Di ruang digital itu, pesantren menjadi sesuatu yang diperebutkan maknanya. Ia dipuji, dikritik, dicurigai, dibela, bahkan terkadang dihakimi. Setiap hari ada percakapan baru yang membentuk persepsi publik tentang pesantren. Menariknya, percakapan tersebut sering kali lebih menentukan citra pesantren daripada pengalaman langsung masyarakat terhadap pesantren itu sendiri.

Fenomena ini mengingatkan pada pemikiran Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (2010) yang menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam jaringan komunikasi yang membentuk cara berpikir dan cara memahami realitas. Dalam masyarakat jaringan, identitas tidak lagi dibentuk hanya oleh pengalaman nyata, tetapi juga oleh informasi yang beredar dalam jaringan digital.

Baca Juga: Andi Iwan Aras Resmi Pimpin HNSI Sulsel, Siap Perjuangkan 500 Ribu Nelayan

Bila menggunakan pendekatan netnografi sebagaimana diperkenalkan Robert V. Kozinets dalam Netnography: Doing Ethnographic Research Online (2010) dan Netnography: The Essential Guide to Qualitative Social Media Research (2019), media sosial dapat dipahami sebagai sebuah ruang budaya. Di dalamnya terdapat komunitas, bahasa, simbol, nilai, dan pola interaksi yang dapat diamati layaknya sebuah kampung atau masyarakat dalam penelitian etnografi.

Dalam konteks pesantren, saya menyebut pendekatan ini sebagai pesantrenetnografi, yaitu upaya membaca kehidupan pesantren melalui jejak-jejak digital yang ditinggalkan oleh para pelaku, pengamat, pendukung, maupun pengkritiknya di ruang media sosial.

Ketika Pesantren Hadir Melalui Krisis

Salah satu hal yang paling mencolok dari pengamatan tersebut adalah kenyataan bahwa pesantren paling sering muncul dalam percakapan publik ketika terjadi masalah. Suatu malam saya membuka media sosial dan menemukan sebuah unggahan tentang dugaan kekerasan di sebuah pesantren. Dalam hitungan jam, unggahan tersebut telah dibagikan ribuan kali. Kolom komentar dipenuhi berbagai pendapat. Sebagian mengecam pelaku, sebagian menuntut reformasi sistem pesantren, sebagian lain membela pesantren dan mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan generalisasi. Beberapa hari kemudian muncul isu lain. Polanya hampir sama. Ada berita, ada potongan video, ada tangkapan layar, lalu ribuan komentar mengikuti.

Sebaliknya, ketika saya mencari informasi tentang santri yang menjuarai kompetisi internasional, pesantren yang mengembangkan pertanian, atau santri yang berhasil membangun usaha ekonomi masyarakat, percakapannya jauh lebih sepi. Di sinilah terlihat bagaimana media sosial bekerja. Henry Jenkins dalam Spreadable Media (2013) menjelaskan bahwa konten yang memicu emosi lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang bersifat informatif. Kemarahan, kekecewaan, ketakutan, dan kontroversi memiliki daya sebar yang jauh lebih besar dibandingkan rutinitas pendidikan yang berjalan normal setiap hari.

Dari sudut pandang etnografi digital, media sosial sesungguhnya sedang membangun gambaran tertentu tentang pesantren. Bukan karena pengguna media sosial berniat menciptakan citra negatif, tetapi karena algoritma lebih menyukai hal-hal yang kontroversial. Akibatnya, pesantren sering hadir di linimasa melalui peristiwa-peristiwa luar biasa, bukan melalui kehidupan sehari-harinya.

Baca Juga: Cegah Anemia, Tim Kesehatan Oro Gading dan Puskesmas Borong Rappoa Edukasi Remaja di SMPN Satap 11 Bulukumba

Padahal kehidupan pesantren sehari-hari sesungguhnya sangat berbeda. Ribuan santri bangun sebelum subuh, mengaji kitab, membersihkan lingkungan, belajar, berorganisasi, dan menjalani berbagai aktivitas yang tidak pernah menjadi viral. Fenomena ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai reduksi identitas. Kompleksitas pesantren yang begitu kaya direduksi menjadi beberapa isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Pada saat yang sama, muncul pula kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan, yaitu generalisasi. Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah lembaga sering kali digunakan untuk menilai seluruh pesantren. Dalam ruang digital, batas antara kritik terhadap kasus dan penilaian terhadap institusi sering kali menjadi kabur.

Dari pengamatan terhadap berbagai percakapan tersebut, tampak bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar diskusi tentang kasus tertentu. Yang sedang terjadi adalah perebutan legitimasi tentang apa itu pesantren dan bagaimana pesantren harus dipahami oleh masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Andi Alfian

Tags

Rekomendasi

Terkini

Aktivis Masuk Kekuasaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 06:27 WIB

Lebih Kurang Sistem Proporsional Tertutup Pemilu

Rabu, 25 Januari 2023 | 22:15 WIB

Tri Rismaharini Larang Kegiatan Ngemis Online

Kamis, 19 Januari 2023 | 19:12 WIB
X