Jakarta, tinjauindonesia.id – Hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama masyarakat. Hal ini berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan.
“Namun sesungguhnya hipertensi menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, maupun ginjal,” ujar Sekjen InaSH (Perhimpunan Hipertensi Indonesia), dr Djoko Wibisono dalam acara The 17th Annual Scientific meeting InaSH 2023, di Jakarta, Jumat (24/2/2023).
Djoko mengatakan hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini.
“Berangkat dari kondisi tersebut, hipertensi sering disebut sebagai ‘Si Pembunuh Senyap’ atau The Silent Killer,” ujar Djoko.
Diungkapkan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 terjadi kenaikan kasus hipertensi di Indonesia menjadi 34,11% dari 25,8% pada tahun 2013.
Menurut Djoko, tidak jarang hipertensi ditemukan secara tidak sengaja pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau datang dengan keluhan lain.
Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang terdeteksi > 140/90 mmHg pada dua kali pemeriksaan yang berbeda di klinik atau fasilitas layanan kesehatan, dengan alat ukur tekanan darah yang sudah tervalidasi.
Hipertensi sendiri terbagi dalam dua kelompok penyebab. Pertama, hipertensi primer (esensial) sebanyak 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya.
Kedua, hipertensi sekunder (5-10%), yaitu tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyebab yang mendasarinya.
Antara lain berhubungan dengan tanda-tanda gangguan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar gondok (tiroid), dan penyakit
Kelenjar, serta konsumsi obat-obatan tertentu.
Ketua InaSH dr Erwinanto mengatakan, tidak berubahnya jumlah penyandang hipertensi dari tahun ke tahun bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga terjadi di negara lain, termasuk negara maju seperti Amerika.
Disebutkan, sebuah penelitian menunjukkan risiko menjadi hipertensi 2 tahun ke depan adalah 40% jika tekanan darah seseorang mencapai 130-139/85-89 mmHg.
Jika tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, berisiko mengalami penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal yang jauh lebih besar dibandingkan mereka dengan tekanan darah lebih rendah.
Erwinanto menambahkan, seseorang dianjurkan menurunkan tekanan darah jika terukur 130/85 mmHg atau lebih.