Jakarta, tinjauindonesia.id - Cap Go Meh merupakan akhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang dilakukan tiap hari ke-15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa, atau dua minggu setelah Tahun Baru Imlek.
Tahun ini, Cap Go Meh jatuh pada hari Minggu (5/2/2023) kemarin.
Umumnya masyarakat Tionghoa dalam merayakan Cap Go Meh akan berdoa dan menjalankan tradisi turun-temurun yang diyakini membawa berkah sepanjang tahun.
Dilansir dari berbagai sumber, istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang secara harfiah berarti 15 malam atau hari setelah Tahun Baru Imlek.
Perayaan Cap Go Meh dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yi yang dianggap sebagai dewa tertinggi di langit pada masa pemerintahan Dinasti Han (206 SM-221 M).
Baca Juga: Basuki: Pembangunan Infrastruktur Dasar di IKN Capai 14 Persen
Sebelumnya, perayaan Cap Go Meh hanya dilakukan khusus untuk kalangan istana dan tidak diperuntukkan bagi orang biasa.
Perayaan Cap Go Meh ini diadakan pada malam hari dan sangat identik dengan upacara pelepasan lampion ke udara.
Ritual ini diyakini sebagai simbol melepaskan nasib buruk dan menyambut nasib baik di masa depan.
Perayaan Cap Go Meh ini akhirnya mulai dikenal luas oleh masyarakat setelah berakhirnya Dinasti Han.
Berbeda dengan perayaan Imlek yang dirayakan dengan mengunjungi kelenteng untuk berdoa,.
Pada saat Cap Go Meh, masyarakat Tionghoa datang ke kelenteng dengan membawa sesaji berupa kue keranjang khas China dan berdoa sebagai rasa syukur dan memohon keselamatan.
Meskipun di beberapa tempat tradisi Cap Go Meh dirayakan dengan cara yang berbeda, setidaknya ada beberapa tradisi wajib yang tidak boleh ketinggalan, di antaranya memasang dan melepas lampion, serta pertunjukan barongsai, dan liong.
Artikel Terkait
Besok, Klenteng Hik Lay Kiong Adakan Kirab Budaya Cap Go Meh
Melihat Keseruan Happy Cap Go Meh di Mal Ciputra Jakarta
Asal Muasal Lontong Cap Go Meh versi Chef Eddrian Tjhia