Sejarah Kekristenan di Bali

photo author
Michael Carlos Kodoati, Tinjau Indonesia
- Kamis, 9 Maret 2023 | 22:32 WIB
Sejarah Kekristenan di Bali I Foto: Now! Bali
Sejarah Kekristenan di Bali I Foto: Now! Bali

Kristen adalah agama minoritas ketiga di Bali setelah Islam yang dianut oleh 64.454 orang Protestan dan 31.397 orang Katolik. Simak ulasan sejarah Kekristenan di Bali berikut.

Jakarta, tinjauindonesia.id - Persentase penduduk Bali yang beragama Kristen dan Katolik masing-masing sebesar 1,66% dan 0,81%. Konsentrasi umat Protestan terbesar di Bali terdapat di Desa Blimbingsari sedangkan konsentrasi umat Katolik di Bali terdapat di Desa Palasari. Namun, perjalanan bagaimana orang Bali menerima Kristen di pulau yang indah ini penuh dengan tragedi dan cerita panjang. Berikut adalah sejarah agama Kristen di Bali.

 

Undangan dari Raja Bali

Di perpustakaan Vatikan, Roma, tersimpan sepucuk surat dari Raja Klungkung, pemimpin Bali pada awal abad ke-17. Surat yang tertulis di atas daun lontar tersebut merupakan undangan dari Raja Klungkung kepada para Imam Portugis di Pusat Katolik Malaka untuk datang ke Bali. Tertulis: “Saya sangat senang jika kita mulai berteman sekarang. Saya akan senang jika Romo datang ke sini, jadi siapa pun yang ingin diizinkan masuk Kristen.” kata Raja Klungkung. Surat itu tepatnya tahun 1635. Ajakan raja Bali itu tentu diterima baik oleh para pemuka agama Katolik di Malaka yang saat itu dikuasai Portugis.

 

Imam datang di Bali

Tak lama setelah itu, tepatnya 11 Maret 1635, datanglah dua ima dari Malaka. Mereka adalah Romo Manuel Carualho S.J. dan Azeuado S.J. Ini adalah awal kontak Bali dengan misionaris Katolik. Setidaknya undangan Raja Klungkung merupakan peristiwa pertama yang dicatat sejarah. Sayangnya, tidak ada catatan tentang hasil dari kedua misionaris Katolik tersebut selama berada di Bali. Atau, tentang diterima tidaknya agama Katolik oleh masyarakat Bali saat itu. Sejarah kontak antara misionaris Katolik dan komunitas Hindu Bali terputus di sini.

 

Dibangunnya Desa Kristen di Bali

Romo Simon Buis memiliki keinginan untuk membangun desa bergaya tradisional Bali. Untuk itu, Simon Buis mengajukan permohonan kepada Residen Bali di Singaraja agar diberikan lahan hutan di Bali bagian barat. Permintaan itu tidak dikabulkan, meski Romo Simon Buis sudah berkali-kali mengajukannya. Romo Simon Buis kemudian mengajukan permintaan lain kepada dewan raja. Permintaan itu dikabulkan. Dewan raja juga memberikan tanah kepada Residen Palasari Lama seluas 200 ha, yang tidak jauh dari hutan Pangkung Sente.

Lokasi baru ini sekarang bernama Desa Palasari. Kebetulan, Palasari adalah tanah yang subur dan menarik orang untuk pindah ke tanah baru ini. Dengan demikian, cita-cita Romo Simon Buis untuk membangun perkampungan tradisional Katolik Bali mendapatkan jalan. Di desa ini, meskipun beragama Katolik Roma, masyarakat Bali masih menggunakan adat dan tradisi Bali, baik dalam berpakaian, bahasa, maupun bangunan.

Perpindahan agama di Bali

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Michael Carlos Kodoati

Tags

Rekomendasi

Terkini

THR Bagi ASN Cair 4 April

Sabtu, 1 April 2023 | 12:04 WIB

Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sejauh 2 Km

Rabu, 29 Maret 2023 | 11:29 WIB

Polri Akan Gelar Operasi Ketupat H-7 Lebaran

Sabtu, 25 Maret 2023 | 13:23 WIB

Terpopuler

X