Sayangnya, Rasulullah ﷺ wafat sebelum sempat melaksanakan puasa di tahun berikutnya. Namun sabda ini menjadi dasar anjuran untuk berpuasa dua hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram, sebagai pembeda dari kaum Yahudi yang hanya berpuasa di tanggal 10.
⚠️ Larangan Menyerupai Kaum Lain
Keinginan Rasulullah ﷺ untuk membedakan umat Islam dari kaum Yahudi adalah bagian dari prinsip dasar Islam dalam menjaga keaslian identitas umat. Beliau bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.”
(HR. Abu Dawud no. 4031; dinilai hasan oleh Al-Albani)
Hadis ini menjadi pijakan agar umat Islam tidak sembarangan meniru kebiasaan kaum lain, terutama dalam hal yang menjadi ciri khas ibadah atau keyakinan mereka.
✨ Keutamaan Puasa Asyura
Selain menjaga identitas, puasa Asyura juga memiliki keutamaan spiritual yang sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
Layanan Pelanggan yang Dapat Diatur dengan Baik يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR.Muslim no.1162)
Ini menjadi motivasi tambahan bagi umat Islam untuk menghidupkan sunnah ini, sebagai sarana taubat dan pembersihan diri.
✅ Kesimpulan
Puasa Asyura bukan hanya tentang meneladani Nabi Musa AS, tetapi juga tentang meneladani prinsip Nabi Muhammad ﷺ dalam menjaga identitas umat. Dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, kita: