Misalnya, sel mengandung enzim antioksidan yang membantu mengurangi kadar radikal bebas. Enzim antioksidan utama dalam sel termasuk superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT), glutathione peroksidase (GPx), dan glutathione reduktase (GRx).
Enzim antioksidan ini dikenal sebagai antioksidan pertahanan lini pertama. Mereka membantu mengatur tingkat radikal bebas dengan menetralkan radikal bebas dan molekul lain yang berpotensi menjadi radikal bebas.
Tubuh juga memproduksi antioksidan metabolik melalui metabolisme. Ini termasuk asam lipoat, glutathione, koenzim Q10, melatonin, asam urat, L-arginin, protein pengkelat logam, bilirubin, dan transferrin.
Namun, ada beberapa antioksidan yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh, yang berarti seseorang harus mengonsumsinya melalui makanan atau dengan mengonsumsi suplemen makanan. Nutrisi antioksidan ini termasuk karotenoid, vitamin antioksidan, termasuk vitamin C dan E, selenium, mangan, seng, flavonoid, dan lemak omega-3 dan omega-6.
Antioksidan diet dan suplemen cenderung mendapat perhatian paling besar dalam dunia nutrisi karena mengonsumsi makanan kaya antioksidan dapat membantu meningkatkan pertahanan antioksidan tubuh.
Antioksidan dalam makanan vs. Suplemen
Mengungkap seluk-beluk antioksidan diet bisa jadi menantang dan membingungkan. Banyak antioksidan muncul secara alami dalam makanan, dan senyawa lain yang tak terhitung jumlahnya yang diklaim dapat meningkatkan pertahanan antioksidan tubuh tersedia sebagai suplemen makanan.
Makanan seperti buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, dan kacang-kacangan mengandung ribuan senyawa berbeda yang berfungsi sebagai antioksidan.
Misalnya, anggur, apel, pir, ceri, dan beri mengandung sekelompok bahan kimia tumbuhan yang disebut antioksidan polifenol. Ada lebih dari 8.000 antioksidan polifenol berbeda di alam.
Buah dan sayuran berwarna cerah juga mengandung karotenoid konsentrasi tinggi, kelas antioksidan lainnya.
Namun, antioksidan yang berasal dari makanan alami ini sangat berbeda dengan yang ditemukan dalam suplemen makanan.
Misalnya, ada banyak bentuk vitamin E, termasuk vitamin E sintetis dan vitamin E alami, seperti ester alfa-tokoferol. Semua bentuk vitamin E ini mungkin memiliki efek berbeda pada tubuh.
Ini mungkin mengapa penelitian yang menyelidiki potensi manfaat kesehatan dari suplemen vitamin E menghasilkan hasil yang bertentangan.