nusantara

Sejarah Kekristenan di Bali

Kamis, 9 Maret 2023 | 22:32 WIB
Sejarah Kekristenan di Bali I Foto: Now! Bali

Bali yang telah menjadi ladang misi sejak tahun 1630 mengalami panen raya sejak pembaptisan bersejarah dan penuh gejolak Tukad Yeh Poh, Untung-Untal Dalung 11 November 1931. Sejak saat itu, agama Kristen terus merambah Bali hingga pertobatan mencapai sedikitnya 27.500 penduduk. Sosok baru ini berhasil dipanen oleh misi Protestan, sementara umat Katolik diharapkan mendapatkan pengikut yang setara. Perpindahan agama ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dengan upaya yang terstruktur, sistematis dan terlindung oleh badan misi dunia.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa perpindahan agama di Bali terbagi menjadi tiga periode. Periode pertama antara tahun 1597-1928, periode kedua tahun 1929-1936 didasarkan pada efektivitas upaya penginjilan yang dilakukan. Kemudian periode terakhir tahun 1937-1949 sebagai masa persiapan lahirnya Gereja Kristen Protestan Bali.

 

Beberapa Misionaris Kristen datang ke Bali

Periode pertama lebih merupakan periode persiapan, di mana sejumlah badan misi dunia, zendeling (misionaris) dan misionaris (misi Katolik) belajar dan datang ke Bali. Sejumlah imam datang ke Bali menyamar sebagai turis seperti Drs. H.W. Medhurst dan Dr. W.R. Baron Van Hoevall. Selain itu, beberapa peneliti diberangkatkan sebagai tahap persiapan seperti Van Der Tuuk. Dia diutus oleh Utrecht Missions Society (U.Z.W.) bekerja sama dengan Dutch Bible Society (N.B.G.). Van Der Tuuk bekerja di Bali pada tahun 1870-1873, selain menerjemahkan Injil juga membuat kamus bahasa Bali.

Sejumlah misionaris ini mempelajari berbagai lontar kuno di Bali. Ternyata di balik kokohnya sistem adat, dilansir dari para pekerja Kristen di Bali seperti Van Hoevall, sejak tahun 1846 banyak masyarakat Bali yang tidak puas dengan sistem adat dan agama tersebut. Ditulis oleh Hoeval banyak orang Bali merasa sistem kasta yang ada dalam agama Hindu Bali tidak adil dan banyaknya upacara dan kewajiban sehubungan dengan penyelenggaraan upacara dan doa menyebabkan mereka menjadi miskin. Inilah yang dilihat Hoeval sebagai celah masuknya penyebaran agama Kristen di Bali.

 Baca Juga: Warisan Budaya Terkenal di Indonesia

Orang Bali pertama yang menjadi Kristen

Namun, meski zending terus bergulir di Bali dengan diutusnya sejumlah penginjil, upaya di tahap awal gagal. Tiga misionaris Belanda, Van Eck, Van Vog, Van der Vroom, setelah 13 tahun berusaha, pada tahun 1873 berhasil membaptis hanya satu orang Bali, I Goesti Wajan Karangasem dari Bali Timur, Jagaraga Singaraja.

I Goesti Wajan Karangasem diberi nama baptis Nikodemus. Namun, karena tidak kuat menanggung beban pengucilan dari keluarga dan banjarnya, ia diduga membunuh De Vroom pada tahun 1881. Sejak peristiwa berdarah itu, Belanda menutup kegiatan penginjilannya selama kurang lebih 50 tahun. Selain itu, melalui perdebatan panjang, Belanda juga menerapkan kebijakan budaya dan pendidikan yang dikenal dengan Baliseering (Balinisasi) yang dimulai pada tahun 1920-an yang mempersulit para penginjil untuk mendapatkan izin masuk ke Bali.

Namun badan misi tidak menyerah. Di tengah penutupan kegiatan penginjilan, penginjil pribumi Salam Watias dari Kediri, bekerja untuk Gereja Kristen Jawi Wetan (G.K.J.W) datang ke Bali untuk menjual buku-buku Kristen. Watias menggunakan pendekatan budaya dan mendekati orang Bali karena sesamanya “Wong Majapahit”. Ia menjual buku-buku tersebut ke desa-desa, terutama di Bali bagian utara.

 

Strategi baru untuk menyebarkan agama Kristen

Sejak orang Bali senang membaca pelajaran agama, ribuan buku telah terjual. Buku yang paling populer adalah Injil Lukas yang ditulis dalam bahasa Bali. Tidak tertutup kemungkinan pendukung Surya Kanta yang tidak puas dengan kondisi riil adat dan agama Bali menjadi pembeli buku Salam Watia.

Sekitar 80 orang Bali akhirnya minta dibaptis oleh Watiyas. Namun karya yang dinilai sangat sukses oleh Dr. R.A. Jaffray, Ketua C.M.A., mempekerjakan seorang Penginjil Tionghoa bernama Tsang Kam Fuk, yang kemudian menyebut dirinya Tsang To Hang. Tsang To Hang berhasil masuk ke Bali pada tahun 1931 setelah CMA berhasil mendapatkan izin khusus untuk menginjili orang Tionghoa di Bali. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan izin masuk ke Bali, tetapi karena izin tidak diperoleh mereka berurusan dengan izin untuk penginjilan terbatas kepada orang Tionghoa dan Belanda akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini

THR Bagi ASN Cair 4 April

Sabtu, 1 April 2023 | 12:04 WIB

Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sejauh 2 Km

Rabu, 29 Maret 2023 | 11:29 WIB

Polri Akan Gelar Operasi Ketupat H-7 Lebaran

Sabtu, 25 Maret 2023 | 13:23 WIB