Pasuruan, tinjauindonesia.id - Kiprah KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang lahir 14 Februari 1871 di Gedang, Jombang, dalam bidang keagamaan out of the box. Ia mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren modern di tanah Jawa.
Sistem pengajaran yang diterapkan di pesantren yang didirikannya pun berbeda dengan sistem belajar mengajar di pesantren lainya.
Hadratusyeikh begitu sebutan akrab KH Hasyim Asy’ari membuka sistem pendidikan berjenjang, dengan memasukkan mata pelajaran umum, dan mengajarkan bahasa Belanda dan Inggris.
Diansir dari tinjau.id, kurikulum di pesantren tersebut membuktikan pemikirannya yang melompat jauh, sangat modernis, dan menggambarkan gagasan cemerlang di masanya.
Baca Juga: Malam Ini, Kapolri dan Panglima TNI Nonton Bareng Wayang Kulit dengan Lakon “Wahyu Makhutarama
Dalam dunia pendidikan, Hadratusyeikh sangat revolusioner, pembela kaum marjinal, wong cilik, dan cara berpikir out of the box. Bukti pemikirannya yang anti mainstream itu ia wujudkan saat membuka pesantren.
Hadratusyekh memilih tempat sepi dengan membabat hutan lebat. Dengan lingkungan yang jauh dari “cahaya agama”. Lingkungan yang kala itu penuh dengan maling, begal, PSK, pemabuk, dan penjudi.
Tentu pilihannya hidup di tempat yang “kurang layak” itu mendapat tentangan dari para kiai senior, sahabat dan keluarganya.
Namun dia tak gentar. Baginya, pendidikan harus banyak memberi pada orang yang masih jauh dari peradaban dan kebudayaan adiluhung.
Sosoknya memang unik dan langka. Jarang kita menemukan figur kiai yang bisa melebur dalam berbagai lapisan masyarakat, tapi pilih-pilih, dan memilih berjuang bersama masyarakat akar rumput.
Baca Juga: 5 Kader PDIP Disebut Lolos Seleksi Kandidat Capres 2024
Idealisme Hadratusyeikh bahwa pendidikan harus berpihak pada orang-orang terpinggirkan. Itu cita-cita luhur yang tak semua orang berani menyuarakan.
Dia tak hanya beretorika pentingnya pendidikan pro rakyat tapi juga turun lapangan.
Tindakan dan sikap Hadratusyeikh itu menyesuaikan tindakan dan sikap. Seperti yang ia tulis dalam karyanya Al-‘Alim wa Al-Muta’allam wa ma Yataqaff Al-Mu’allimin fi Maqamat Ta’limin.
Artikel Terkait
65 Tahun Karlina Supelli: Menemukan Allah Dalam Sains Dan Manusia
Belajar Dari Filsuf Aristoteles Soal Persahabatan
Belajar Mengenai Pendidikan Dari Plato
Catat Tanggalnya, ICAN Gelar Pameran Pendidikan Gratis di PIK
Keren, Mahasiswa Asal Ciamis Jadi Presiden BEM Universitas Columbia