Belajar Dari Filsuf Aristoteles Soal Persahabatan

photo author
Michael Carlos Kodoati, Tinjau Indonesia
- Kamis, 26 Januari 2023 | 22:58 WIB
Aristoteles. (Pixabay)
Aristoteles. (Pixabay)
Jakarta, tinjauindonesia.id - Dilansir dari tinjau.id, persahabatan merupakan kebutuhan sosial manusia. Manusia mengharapkan hal baik untuk sesama. Bagi Aristoteles, itu hanya mungkin terjadi antara 'orang baik yang memiliki kebajikan yang sama.'
 
Berapa banyak teman Anda yang benar-benar 'teman'? Bagaimana Anda bisa tahu bedanya? Apa perbedaan itu?
 
Dalam mahakarya etisnya The Nicomachean Ethics, Aristoteles mengalihkan pikirannya yang cemerlang ke masalah tentang apa sebenarnya persahabatan itu.
 
Ia memandang kehidupan yang baik tidak hanya membutuhkan kebajikan-kebaikan internal yang sebagian besar menjadi tanggung jawab kita. Melainkan juga  hal eksternal yang memfasilitasi kebajikan dan menyenangkan.
 
Dalam buku VIII karya ini, ia mendefinisikan tiga jenis persahabatan, dan satu kebajikan persahabatan, "Philia" atau cinta persaudaraan. Seperti semua kebajikan Aristoteles, Philia adalah titik tengah antara dua sifat buruk.
 
Kurangnya cinta persaudaraan mengarah pada keburukan egoisme. Aristoteles akan setuju bahwa "The friend to all is a friend to none.”
 
 
Setidaknya ada tiga jenis persahabatan menurut Aristoteles, berikut.
 

Berdasarkan utilitas dan kesenangan

Yang pertama adalah 'utilitas'. Persahabatan ini berdasar pada apa yang dapat dilakukan oleh dua orang yang berkaitan satu sama lain. Ini menawarkan keramahtamahan, demikian klaimnya. Tapi ini dapat berakhir dengan cepat, segera setelah tujuan di balik dibangunnya relasi itu tercapai.

Yang kedua adalah 'kesenangan'. Persahabatan ini berlandaskan pada kenikmatan aktivitas bersama,  pengejaran kesenangan dan emosi sesaat. Aristoteles menyatakannya sebagai persahabatan kaum muda. Relasi ini jangka pendek yang sering terjadi karena orang-orang dapat mengubah apa yang mereka sukai dan tiba-tiba menjadi teman tanpa koneksi yang sungguh.

Dalam kedua jenis di atas, orang lain tidak dihargai “pada diri mereka sendiri” tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Persahabatan sejati

Kategori terakhir adalah 'sejati'. Persahabatan kebajikan atau persahabatan 'yang baik'. Inilah orang-orang yang kita sukai atas apa adanya diri mereka sendiri. Orang-orang yang mendorong kita untuk menjadi orang yang lebih baik.

Ini cukup sulit kita temukan di tengah maraknya ketidaktulusan. Aristoteles menyesali kelangkaan jenis semacam ini.

Dalam dunia dengan hubungan sosial yang terus meningkat, pertanyaan tentang apa 'sebenarnya' persahabatan adalah pertanyaan yang penting.

Bimbingan Aristoteles, dengan pandangannya adalah salah satu saran yang sangat kita butuhkan di dunia modern ini.

Artikel Selanjutnya

Seni "Rasa" Sudjojono

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Michael Carlos Kodoati

Sumber: tinjau.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X