Jakarta, tinjaindonesia.id - Rasa dan apa yang dihasilkan rasa adalah karya abadi bagi sejarah peradaban manusia.
Dilansir dari tinjau.id, di dunia seni kontemporer, nama S. Sudjojono merupakan maestro seni rupa di awal abad modern Indonesia yang dikenal sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.
“Kemanusiaan, tanpa kekerasan dan jika Anda mengerjakan sesuatu terjun dan jiwailah apa yang Anda kerjakan (jiwa ketok). Itulah ‘rasa’ menurut S. Sudjojono,” ujar Maya Sudjojono, puteri bungsu Maestro Sudjojono.
Latar belakang sebagai anak mantri, pernah mengalami perang, hingga mengalami sendiri perpisahan dengan Ayahnya karena kekerasan perang menjadi pembentuk karakter seni rupa yang dihasilkan Sudjojono.
”Karakter humanis dalam seni rupanya, penekanan pada tanpa kekerasan terbentuk karena dia anak mantri dan pernah lihat Eyang tertembak dan akhirnya meninggal saat perang kemerdekaan,” kata Maya.
Menurut Maya, bagi Sudjojono, ‘rasa’ itu harus soal jujur pada diri sendiri, memiliki visible soul, dan soal metransfer jiwa seniman itu ke dalam karya.
“Ada satu hal dari seni karya Bapak, tidak ada goresan cerita berdarah-darah meski dia itu pernah mengalami pengalaman kekerasan perang. Lewat karyanya Bapak mau memberi makna bahwa dendam bukanlah kehidupan manusia sesungguhnya,” kata Maya.
“Sebagai pelukis, Sudjojono sangat memerhatikan masalah regenerasi. Sepanjang kariernya ia memiliki perhatian besar dalam hal mendidik generasi baru pelukis Indonesia,” sebagaimana dalam Bondan Kanumoyoso pada buku Autobiografi Cerita Tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya.
Selain pelukis, Sudjojono merupakan seseorang pemikir, pendidik, dan penulis yang produktif dengan karya mulai dari lukisan, sketsa, gambar, seni publik, pematung dan relief, serta karya keramik dan furnitur.