Sedangkan yang lulus akan mendapat izin masuk ke pemerintahan dan akan menjalani pendidikan lima tahun lagi. Mereka akan menerima pelatihan lebih lanjut dalam logika, metafisika, filsafat, dan dialektika.
Tingkat Keenam
Pada tahap terakhir dari sistem pendidikan Plato, para siswa akan ditugaskan ke posisi pemerintahan di mana mereka akan mengabdi selama 15 tahun ke depan. Dari orang-orang ini, seseorang akan negara tunjuk untuk memerintah sebagai raja-filsuf.
Raja filsuf akan menjadi pejabat tertinggi di negeri itu, dan pekerjaannya adalah menjalankan pemerintahan dan mendidik rakyat. Setiap perintah yang mereka dapat akan mereka laksanakan dan keputusannya berlaku sebagai hukum. Sementara itu, anggota kelas penguasa lainnya akan terus mendapat pendidikan tetang filsafat.
Plato membayangkan semacam pendidikan yang tersedia untuk semua orang, tanpa memandang jenis kelamin dan status sosial. Dia beralasan bahwa setiap warga negara harus memberikan kontribusi untuk kesejahteraan negara. Dan bahwa cara yang paling pasti untuk memastikan hal ini adalah dengan mendidik semua warga negara.
Plato tidak melihat adanya perbedaan dalam kualitas kontribusi sipil, sehingga dia memperlakukan wanita dan pria sebagai warga negara yang potensial dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, Plato mungkin telah terpengaruh oleh gurunya, Socrates, yang mengatakan kota yang sempurna adalah kota di mana pria dan wanita mendapat izin bekerja untuk kota.
Organisasi dan peluang untuk maju dalam sistem pendidikan Plato memiliki dalam tiga tingkatan: pendidikan dasar, di mana anak-anak mendapat pelatihan musik dan senam; instruksi militer; dan pendidikan tinggi.
Gagasan Plato tentang pendidikan tinggi terus memengaruhi sistem pendidikan modern, di mana individu mengambil gelar master dan doktoral. Plato menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab negara.
Negara harus memperlakukan masalah pendidikan sebagai masalah krusial dan harus menjadi satu-satunya yang memutuskan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mata pelajaran harus sampai kepada para siswa. Plato meremehkan jenis pelatihan yang diberikan oleh keluarga.
Dalam pandangannya, terlalu banyak individualitas diturunkan kepada anak-anak melalui bentuk pelatihan ini. Plato memandang individualitas berbahaya bagi negara. Dia percaya bahwa hanya warga negara yang dididik oleh pemerintah yang dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi negara.
Konsep Plato tentang kontrol total negara terhadap pendidikan belum terbawa ke dunia modern karena dominasi cita-cita demokrasi dan keengganan masyarakat modern terhadap sensor. Namun, konsep bahwa negara wajib memberikan pendidikan yang baik kepada warga negaranya adalah salah satu pilar masyarakat modern.
Artikel Terkait
Marah Roesli, Dokter Hewan Pengarang Siti Nurbaya
65 Tahun Karlina Supelli: Menemukan Allah Dalam Sains Dan Manusia