Sindhunata menuliskan dengan indah mengapa Romo Maryono bisa semurah hati itu?
Jawabannya tak lain karena kemurahan hati adalah rahmat Tuhan untuknya. Tak semua orang bisa menerima rahmat sebesar itu.
Romo Maryono rela memberikan dirinya kepada mereka yang membutuhkan di situasi serba susah dan berat karena pandemi Covid-19.
Sampai-sampai ia sendiri meninggal dunia terpapar wabah ganasnya pandemi itu. Dalam arti itulah, Romo Maryono telah tiba pada puncak pelayanannya sebagai Yesuit dan imam.
3. Romo Vincentius Sugondo SJ
Sindhunata mengutip kesaksian Franz Dahler yang menyebut semasa hidupnya, Romo Gondo, panggilan akrabnya, pernah melayani pastoran Magelang.
Ia juga pernah membantu Romo Van Deinse di wisma Asrama Putra di pinggir Kota Semarang, tempat pengasuhan dan pembinaan anak-anak yatim piatu dalam berbagai bidang.
Baca Juga: Chelsea Bertemu Real Madrid, Graham Potter Mengaku Senang
Kesaksian lain tentang Romo Gondo datang dari Agung Heryanto, seorang peneliti di sebuah RS kanker di New York.
Dia menyebut, Romo Gondo aktif berkarya di kalangan orang miskin, kemudian aktif di Pulau Galang, serta Papua fokus pada kalangan penyintas HIV.
Sindhunata menyebut, sejak muda Romo Gondo, setamat dari Loyola menjadi tangan kanan Romo Van Deinse. Siang dan malam, ia mencari dan mengumpulkan anak-anak gelandangan dan tersisihkan di Semarang.
Sampai akhir hayat, Romo Gondo merupakan sosok yang teguh dalam keyesuitannya. Tetap bertahan menjadi imam yang mencoba menjalankan panggilan untuk kaum terpinggirkan.
Secara keseluruhan buku ini menarik untuk dibaca semua kalangan.
Pengalaman dan idealisme para Yesuit bisa menginspirasi pembaca untuk selalu melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup.
Artikel Terkait
Belajar Mengenai Pendidikan Dari Plato
Keren, Mahasiswa Asal Ciamis Jadi Presiden BEM Universitas Columbia
Mengenal Sosok Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari yang Revolusioner