Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura. Ibadah ini bukan sekedar amalan sunnah biasa, namun menyimpan kisah sejarah yang kuat dan prinsip penting dalam menjaga jati diri umat Islam. Di balik anjuran ini, tersimpan pula sikap tegas Nabi Muhammad ﷺ terhadap penyerupaan dengan kaum lain.
???? Asal Usul Puasa Asyura
Ketika Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, beliau menemukan kaum Yahudi berpuasa pada hari ke-10 Muharram. Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Sebagai bentuk syukur, Nabi Musa pun berpuasa pada hari itu.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.”
(HR. Bukhari no. 3943, Muslim no. 1130)
Lalu Nabi pun berpuasa pada hari itu dan meminta para sahabat untuk ikut berpuasa pula.
???? Anjuran untuk Berpuasa Tanggal 9 Muharram
Meskipun dia mengakui keutamaan puasa Asyura, Rasulullah ﷺ tidak ingin beribadah umat Islam menyerupai ibadah kaum Yahudi sepenuhnya. Oleh karena itu, beliau mendirikan pula untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, sehari sebelum Asyura, yang dikenal sebagai puasa Tasu'a.
Dia bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
"Jika aku masih hidup hingga tahun depan, aku pasti akan berpuasa juga pada hari kesembilan."
(HR.Muslim no.1134)