Jakarta, tinjauindonesia.id - Layaknya hari raya pada umumnya, perayaan tanpa baju khas tentu tidak lengkap.
Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, memakai baju Cheongsam dan Changsan akan melengkapi kegembiraan merayakan Tahun Baru Imlek.
Baju Cheongsam dan Changsan merupakan pakaian tradisional khas warga Tionghoa sejak tahun 1920 dan menjadi simbol sosial wanita kelas atas (bangsawan) hingga saat ini.
Pakaian yang juga disebut Qipao ini memiliki ciri-ciri mengikuti siluet bentuk tubuh dengan kerah dan kancing berbentuk khusus yang disebut Shanghai. Selain itu, Cheongsam juga biasanya memiliki belahan pada bagian kaki.
Baca Juga: Macam-macam Gaya Hidup, Kamu Yang Mana?
Seiring perkembangan zaman baju Cheongsam juga mengalami perubahan bentuk dan desain, tapi tetap tidak menghilangkan karakter aslinya. Sebagai pakaian tradisional khusus, Cheongsam juga dianggap memiliki nilai-nilai estetika yang unik dan dicap sebagai tolak ukur seni garmen Tionghoa.
Ceritanya, sekitar abad ke-17 dan abad ke-20, baju Changsan merupakan pakaian yang wajib dikenakan oleh setiap pria. Jika ketahuan tidak mengenakannya, maka akan mendapatkan hukuman yang amat berat.
Ketika Dinasti Qing turun dan perintah ini ditangguhkan, baju Changsan kemudian hanya diwajibkan pada pria yang bekerja sebagai pejabat di pengadilan dan kantor pemerintahan.
Baju Changsan ini banyak dipakai oleh para pria di saat acara-acara tradisional seperti Imlek, formal, dan juga pernikahan. Baju Changsan juga semakin mengikuti tren mode dunia sehingga lebih fashionable dan digemari. Bahkan, kadang dipadukan dengan kearifan lokal di berbagai belahan dunia, tanpa melepaskan karakter orientalnya.
Artikel Terkait
Bersikap Bodoh Amat? Bagaimana Tuh...
Macam-macam Gaya Hidup, Kamu Yang Mana?