Sering kali orangtua berteriak pada anak, tetapi para ahli berbagi mengapa hal itu tidak membuat Anda berperilaku seperti yang Anda inginkan.
Jakarta, tinjauindonesia.id - Kemarahan, bagaimanapun juga, adalah emosi umum yang dirasakan setiap kali kita berharap segala sesuatunya berbeda dengan kenyataan. Namun, adala alasan mengapa sesungguhnya Anda tidak perlu berteriak terhadap anak Anda saat sedang marah.
Berteriak Bisa Membuat Anak Merasa Direndahkan
Hal umum yang menyatukan semua orang adalah keinginan untuk merasa dihargai. Bagi sebagian besar dari kita, merasa dihargai oleh orang lain adalah cara kita mengukur harga diri kita dan cara kita menentukan apakah kita penting bagi dunia di sekitar kita. Saat kita dimarahi, kita menganggap diri kita tak dihargai. Berteriak adalah salah satu cara tercepat untuk membuat seseorang merasa tidak berharga.
Ketika kita marah dan mulai berteriak, kita melihat diri kita sebagai palu dan semua orang di sekitar kita sebagai paku. Dalam keadaan seperti itu, anak-anak kita terlihat seperti musuh dan bukan seperti manusia yang kita hargai dan cintai. Anak-anak kita seharusnya tidak pernah merasa seperti musuh.
Baca Juga: Membesarkan Anak yang Penuh Rasa Hormat
Berteriak Bisa Mengganggu Ikatan
Berteriak merusak hubungan Anda dengan anak Anda. Saat teriakan terjadi, membangkitkan empati satu sama lain bisa menjadi tantangan tersendiri. Berteriak dapat membuat Anda dan anak Anda berselisih satu sama lain dan membuat mereka merasa Anda tidak berada dalam tim mereka. Biasanya, anak-anak meninggalkan interaksi di mana mereka dimarahi karena merasa terputus dari Anda.
Berteriak bukanlah Komunikasi yang Efektif
Anak-anak mengalami kesulitan belajar untuk mengatur emosi mereka sendiri jika orangtua mereka tidak menunjukkan caranya. Dan orangtua yang cenderung berteriak setiap kali mereka kesal mungkin akhirnya mengajari anak-anak mereka untuk bereaksi berlebihan. Mereka menghadapi situasi frustasi mereka sendiri.
Ketika kita meneriaki anak-anak kita, kita mengaktifkan "neuron cermin" mereka—bagian otak yang mencerminkan perilaku orang lain—menyebabkan mereka merespons dengan cara yang sama. Kemarahan melahirkan kemarahan dan meneriaki anak-anak kita membuat mereka ingin balas membentak kita.