Telur
Putih telur menyediakan protein, sedangkan kuning telur mengandung seng dan vitamin A, D, E, dan B12. Kuning telur juga mengandung kolin, yang menurut penelitian sangat penting untuk perkembangan otak. Secara tradisional, dokter anak menyarankan orangtua untuk tidak menyajikan telur — terutama putih telur — sampai setelah tahun pertama karena potensi reaksi alergi. Namun saran itu telah berubah, dan beberapa ahli percaya bahwa telur sebaiknya ditunda hanya pada keluarga yang memiliki riwayat alergi. Tanyakan kepada dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.
Yogurt
Yogurt memberi bayi Anda kalsium, protein, dan fosfor, yang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Ia juga memiliki probiotik, sejenis bakteri baik yang membantu pencernaan dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Bayi membutuhkan lemak dalam makanannya, jadi pilihlah yogurt susu murni daripada varietas rendah lemak atau bebas lemak. Hindari juga yogurt rasa, yang tinggi gula.
Keju
Keju tidak hanya mengandung protein, tetapi juga mengandung kalsium dan dosis riboflavin (vitamin B2) yang sehat, yang membantu mengubah protein, lemak, dan karbohidrat menjadi energi. Keju Swiss khususnya memiliki rasa yang sedikit manis yang menarik bagi bayi. Karena keju dapat menimbulkan bahaya tersedak, potonglah menjadi potongan-potongan kecil berbentuk dadu.
Brokoli
Brokoli adalah superfood sejati untuk bayi, berkat kandungan vitamin C, beta-karoten, asam folat, zat besi, potasium, dan serat yang tinggi. Merebus brokoli dalam air mengurangi separuh kandungan vitamin C-nya, jadi sebaiknya dikukus atau microwave. Jika bayi Anda tidak menyukai rasa brokoli, campurkan dengan sayuran yang rasanya manis, seperti ubi jalar atau labu.
Pasta
Pasta adalah sumber karbohidrat kompleks yang baik, yang memberi kita energi berkelanjutan. Inilah mengapa pasta sangat populer di kalangan atlet. Coba campurkan beberapa pasta gandum dengan pasta biasa untuk meningkatkan kandungan serat makanan. Pastikan untuk memilih bentuk yang kecil dan masak hingga sangat empuk.