Jakarta, tinjauindonesia.id - Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, memperingatkan bahwa Jepang berada 'di ambang' kehilangan fungsi sosialnya karena angka kelahiran menurun drastis. Kishida berjanji bahwa pemerintahannya akan berfokus pada peningkatan populasi penduduk.
"Bangsa kita berada di ambang, apakah dapat mempertahankan fungsi sosialnya,” kata Kishida dalam pidato kebijakannya pada hari pertama sesi Majelis Rendah Parlemen, Senin (23/01) di Tokyo.
Kemendesakan Jepang untuk meningkatkan jumlah kelahiran bayi datang dari keresahan pemerintah Kishida setelah angka kelahiran dirilis pada bulan Desember lalu. Hasilnya jumlah kelahiran pada tahun 2022 berada di bawah angka 800.000, dan hal ini terjadi karena populasi Jepang terus menurun. Angka tersebut terpaut jauh ketika Jepang mengalami puncak ledakan populasi pada tahun 1973, yang mencapai sekitar 2,09 juta kelahiran.
Baca Juga: Perdana Menteri Selandia Baru Mundur Dari Jabatannya
Dilansir dari tinjau.id, pemerintahan Kishida berencana untuk meningkatkan jumlah tunjangan anak bagi orang tua. Saat ini, tunjangan pengasuhan anak sebesar ¥15.000 ($115) dibayarkan kepada setiap anak per bulan hingga mereka mencapai usia 3 tahun. Setelah itu, mereka akan mendapat tunjangan sebesar ¥10.000 hingga anak tersebut lulus dari sekolah menengah pertama.
Supaya agenda ini tidak mubazir pemerintah Jepang juga akan mengeluarkan kebijakan untuk memberikan fasilitas pengasuhan anak. Badan Anak dan Keluarga, sebuah badan pemerintah baru untuk mengawasi kebijakan anak, yang akan berlangsung pada bulan April.
"Kami akan mempertimbangkan bagaimana masyarakat secara keseluruhan dapat mendukung anak-anak secara stabil sambil melakukan berbagai upaya," kata Kishida.
Kishida menjelaskan bahwa prioritasnya dalam meningkatkan kelahiran bayi bakal mempertahankan kekuatan nasional, dan sebagai “investasi paling efektif untuk masa depan.”
Dalam pidatonya juga, Kishida membicarakan rencana diplomasi dan keamanan nasional. Dia mengatakan Jepang bersama dengan negara-negara G7 lainnya akan menanggapi invasi Rusia ke Ukraina dan masalah global lainnya menjelang pertemuan puncak bulan Mei di Hiroshima, Jepang barat. Kishida menyatakan tekadnya untuk mengambil langkah-langkah penting untuk menciptakan dunia tanpa senjata nuklir.
Artikel Terkait
Keluarga Keturunan Afghanistan Tuntut Pangeran Harry Diadili
Perdana Menteri Selandia Baru Mundur Dari Jabatannya
Waspada Gejala Kanker Serviks