Dalam buku tersebut, seorang pendidik agama harus mengamalkan apa yang ia ajarkan, dan dirinya adalah contoh apa yang ia ucapkan.
Ilmu, baginya bukan sekedar hafalan dalam otak. Tapi juga diamalkan dalam perilaku.
Seorang guru agama bukan sekadar jadi contoh yang kata-katanya dapat diambil hikmahnya. Melainkan wujud konkret dari nilai-nilai luhur yang ia ajarkan. Sebagai public figure yang jiwa dan kehidupannya menjadi institusi sendiri.
Baca Juga: Ini 4 Strategi Pemprov DKI Tangani Kemiskinan Ekstrem di Jakarta
Hadratusyeikh sangat humanis dalam berdakwah. Islam Rahmatan Lil-Alamin ia jiwai sepenuh hati.
Tinggal di lingkungan yang “gelap” bersama orang-orang dengan latar belakang sosial yang suram membuatnya menerapkan strategi dan metode berbeda untuk melakukan pendekatan sosial.
Dakwah hadratusyeikh bersama para santrinya memang tidak mulus. Ancaman fisik pun sempat diterima santrinya. Karena keberadaan pesantren dianggap ancaman yang akan menghancurkan kelangsungan kemaksiatan masyarakat sekitar.
Tapi komunikasi Hadratusyeikh yang santun pada akhirnya mampu menyentuh hati dan mencerahkan orang-orang yang lekat dalam kemaksiatan.
Mereka kemudian menyatakan diri belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh pada Hadratusyeikh.
Mengenal lebih jauh sosok Hadratusyeikh, adalah mengenal wajah Islam sesungguhnya yang menjadi rahmat bagi semesta alam.