sastra-koma

Kisah Anak-anak Ignatius yang Menginspirasi

Sabtu, 18 Maret 2023 | 11:04 WIB
Cover Buku Anak-anak Ignatius

Ia masuk novisiat Serikat Yesus, pendidikan awal calon-calon imam Yesuit pada tahun 1925.

Oleh pembimbing rohaninya, Pater Willekens mengusulkan agar Piet Zoetmulder bekerja untuk karya misi di Pulau Jawa. 

Waktu itu Piet Zoetmulder baru berusia 19 tahun. Ia mengajar di seminari menengah.  Di samping belajar filsafat dan menggeluti studi Jawa kuno. 

Selama belajar filsafat di Kolese Ignatius Yogyakarta, Zoetmulder sudah langsung mempelajari Jawa kuno. Ia juga mengajar agama ke desa-desa sekitar Yogyakarta dengan bersepeda. 

Baca Juga: Jelang Ramadan 1444 H, Situasi Jadetabek Kondusif dan Aman

Orang-orang desa sangat menyukainya, karena calon imam yang masih muda ini mengenal perasaan mereka dan fasih berbahasa Jawa. 

Sindhunata mengisahkan, Zoetmulder tak segan duduk di tikar bersama orang desa.

Di sela-sela mengajar agama, ia juga berlatih menembang. Karena bakatnya dalam bidang musik ini, Zoetmulder sering memberi not-not latin pada tembang-tembang Jawa. 

Romo Zoetmulder, menurut pandangan Sindhunata, selalu menemukan Tuhan dalam kekeringan, kesunyian, dan keputihan hidup keilmuannya.

Ia tidak mencari Tuhan di tempat lain. Tuhan ada dalam tugas hidupnya yang monoton dan kering serta tanpa hiburan. 

2. Romo Maryono SJ

Romo Maryono merupakan sosok yang lugu dan sederhana untuk bisa memikat orang. Saat berkhotbah, ia cenderung kalem. 

Namun, banyak yang terpikat padanya. Itu tak lain karena ia  baik dan murah hati. Itu tercermin dalam sikap dan tindakan nyata, suka memberi dan murah hati sejak masa kanaknya. 

Baca Juga: Lance Reddick, Aktor Pemeran Charon di Film John Wick Meninggal Dunia 

Itu sebabnya, saat ia wafat, banyak orang yang sedih, merasa kehilangan dan menangisi kepergiannya. Terutama umat yang pernah dilayaninya di Paroki Blok Q-Jakarta serta Paroki Bongsari dan Gedangan, Semarang. 

Halaman:

Tags

Terkini