Pasukan Indonesia menjawab ultimatum itu dengan membangun pos-pos gerilya di berbagai titik.
Sepanjang Desember terjadi beberapa pertempuran di berbagai tempat. Di antara lain Cihaurgeulis, Sukajadi, Pasir Kaliki, dan Viaduct.
Bandung Lautan Api
Baca Juga: Mengenal Sosok Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari yang Revolusioner
Pada 23 Maret 1946, mereka mengultimatum Perdana Menteri Syahrir. Agar selambatnya pukul 24.00 WIB tanggal 24 Maret 1946 pasukan Indonesia meninggalkan Bandung Selatan sejauh 10-11 kilometer dari pusat kota.
Jelas, Pemerintah RI menolak ultimatum tersebut. Tidak mungkin memindahkan ribuan pasukan dalam tempo singkat.
Setelah melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3), TRI, aparat pemerintahan, dan para pemimpin laskar perjuangan sepakat untuk meluluhlantakkan Bandung sebelum meninggalkan kota tersebut.
Pada 24 Maret 1946 pukul 21.00 WIB, operasi dimulai. Gedung pertama yang diledakkan ialah Bank Rakyat.
Selanjutnya, pembakaran sejumlah wilayah seperti Banceuy, Cicadas, Braga, dan Tegalega. Anggota TRI juga membakar asrama-asrama mereka.
Dalam waktu tujuh jam saja Bandung luluh lantak. Baru kemudian, mereka beramai-ramai meninggalkan Bandung.
Bandung yang hancur lebur jelas tak bisa difungsikan oleh sekutu sebagai markas militer.
Peristiwa pertempuran, pengosongan, dan pembakaran Bandung menjadi sejarah besar.
Masyarakat Bandung meninggalkan rumah, harta, dan tempat mereka berlindung demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.***