Diskusi yang berlangsung setelah sesi presentasi menghadirkan berbagai perspektif dari para peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, akademisi, penggiat pelestarian Pinisi, Horst Liebner, para panrita lopi, tokoh pemuda, serta perwakilan Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, dan Desa Bira.
Beragam masukan yang disampaikan memperkaya hasil penelitian sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem budaya Pinisi.
Tanggapan konstruktif diberikan guna menekankan pentingnya tindak lanjut atas hasil penelitian tersebut, baik melalui pengembangan riset yang lebih mendalam maupun melalui komitmen Pemerintah Kabupaten Bulukumba dalam merumuskan kebijakan yang mampu menjawab berbagai tantangan pelestarian Pinisi.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin bersama Bapperida Kabupaten Bulukumba berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai luaran akademik semata, tetapi dapat menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan publik yang berbasis bukti serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Pinisi sebagai warisan budaya maritim yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya.(*)