TINJAUINDONESIA.ID – Anggota DPD RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Syauqi Soeratno, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat menjadi tantangan besar bagi dunia jurnalistik. Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan perubahan algoritma digital, pers nasional dituntut mampu beradaptasi tanpa mengorbankan independensi sebagai pilar keempat demokrasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Syauqi saat memberikan sambutan pada Gala Dinner Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) yang berlangsung di Gedung DPD RI Yogyakarta, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh pers nasional dan daerah, di antaranya Anggota Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto, Ketua Umum Pengurus Pusat FPRMI Bernadus Wilson Lumi, serta jajaran pengurus pusat dan pengurus provinsi FPRMI. Forum ini menjadi wadah diskusi mengenai strategi menghadapi disrupsi digital yang terus memengaruhi industri media.
Baca Juga: Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin Siap Maju Kembali pada Konferprov XIII Periode 2026–2031
Dalam pemaparannya, Syauqi menjelaskan bahwa lanskap media saat ini mengalami perubahan yang sangat signifikan dibandingkan masa ketika informasi hanya disebarkan melalui televisi, radio, dan surat kabar. Kini, media sosial memungkinkan setiap orang menjadi penyebar informasi, meski tidak semuanya memiliki kompetensi jurnalistik maupun mematuhi kode etik pers.
Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi cara masyarakat menerima informasi. Tidak sedikit publik yang membentuk opini hanya berdasarkan judul berita tanpa membaca isi secara menyeluruh, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap suatu informasi.
Syauqi juga menyoroti tantangan baru yang muncul akibat sistem algoritma media sosial. Ia menjelaskan bahwa perhatian pengguna internet kini sangat singkat sehingga pembuat konten dituntut mampu menarik perhatian hanya dalam hitungan detik.
Ia mengungkapkan, ketika pengguna berhenti menonton sebuah konten selama sekitar enam detik, algoritma platform digital akan mengenalinya sebagai minat pengguna dan terus menyajikan konten serupa. Kondisi ini menjadi tantangan bagi media massa maupun lembaga publik untuk menyampaikan pesan yang akurat, menarik, dan tetap bermakna dalam waktu yang sangat terbatas.
Baca Juga: Laporan Sigap Warga dan Respons Cepat Damkar Polman Jadi Kunci Padamnya Kebakaran di Mangundang
Meski menghadapi perubahan besar, Syauqi menegaskan bahwa media massa harus tetap mengedepankan kualitas jurnalistik, akurasi informasi, serta independensi dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.
Menurutnya, di era masyarakat global, media juga memiliki tanggung jawab memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai isu internasional. Beragam persoalan global, seperti konflik geopolitik dan dampaknya terhadap kondisi ekonomi maupun pelayaran internasional, membutuhkan pemberitaan yang objektif dan mudah dipahami masyarakat.
Melalui peringatan HUT ke-3 FPRMI, Syauqi berharap insan pers Indonesia terus memperkuat profesionalisme dan mampu menjawab tantangan transformasi digital. Ia menekankan pentingnya menjaga pers yang independen, kredibel, dan berkualitas agar tetap menjadi kekuatan dalam memperkuat demokrasi serta menyuarakan kepentingan bangsa di tengah dinamika global.