ragam

Rawan Termakan Isu, Pegiat Literasi Serukan Gen Z Harus Berpikir Kritis, Bukan Sekedar Pengikut Tren

Jumat, 26 Juni 2026 | 08:52 WIB
Pegiat Literasi, Adis Cahyana. (Foto: dok.Pribadi).

TINJAUINDONESIA.ID - Paparan masif konten pendek dan viral di platform digital seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini mengancam kemampuan kognitif Generasi Z (Gen Z).

Perubahan signifikan pada pola pikir serta cara menyerap informasi ini memicu kekhawatiran besar dari para peneliti komunikasi dan pegiat literasi.

Riset terbaru dari medRxiv berjudul The Impact of Short-Form Video Use on Cognitive and Mental Health mengungkapkan bahwa konsumsi video pendek memicu siklus dopamine loop. Siklus ini membiasakan otak pengguna dengan kepuasan instan.

Baca Juga: Robani Lepas Keberangkatan Atlet Pagar Nusa di Baikota Semarang

Dampak psikologisnya pun tidak main-main, meliputi penurunan kemampuan fokus, lonjakan kecemasan, hingga distorsi persepsi sosial.

"Gen Z cenderung lebih sering bereaksi cepat terhadap tren ketimbang melakukan analisis mendalam," tulis laporan riset tersebut.

Perilaku impulsif Gen Z ini diperparah oleh fenomena psikologis Fear of Missing Out (FOMO). Kajian bertajuk Caught in the Scroll: A Psycholinguistic Exploration of FOMO and Viral Language menyoroti pengaruh besar penggunaan bahasa viral, slang, meme, dan singkatan.

Baca Juga: Air Mata Bahagia Warnai Penamatan dan Kenaikan Kelas MAS Darul Istiqamah Bulukumba

Faktor-faktor tersebut mendorong anak muda terus mengikuti tren secara buta tanpa melakukan proses verifikasi data.

Peneliti komunikasi digital, Dr. Kamraju, menegaskan bahwa fenomena kebahasaan di ranah digital memegang kendali besar atas kondisi psikologis remaja saat ini.

Menurutnya, bahasa viral memperkuat tekanan sosial di dunia maya, sehingga anak muda merasa harus selalu update agar tidak tertinggal dari kelompoknya.

Baca Juga: Nasib Uang Sayembara Rp250 Juta Penangkapan Taufik Hidayat, Dedi Mulyadi Ungkap Bakal Diberikan untuk Korban

Menyikapi fenomena ini, Pegiat Literasi, Adis Cahyana serukan adanya gerakan pendampingan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah dikendalikan oleh algoritma media sosial.

"Gen Z paling rentan kehilangan kedalaman berpikir. Perlu ada gerakan literasi yang mengajarkan mereka cara berhenti sejenak untuk memverifikasi, bukan sekadar membagikan apa yang sedang ramai," kata Adis. Kamis, (25/6/2025).

Halaman:

Tags

Terkini

Gadget Murah berkualitas di Akhir Tahun 2024

Kamis, 12 Desember 2024 | 15:45 WIB

Beda Usia, Beda Cara Anak Menikmati Liburan

Minggu, 8 Desember 2024 | 19:09 WIB