Gerakan ini harus memiliki peta jalan yang jelas, mulai dari penjaringan calon wirausaha, pelatihan berbasis praktik bisnis, pendampingan, kemudahan perizinan, akses pembiayaan, inkubasi bisnis, digitalisasi pemasaran, hingga pembukaan akses pasar nasional dan ekspor.
Fokus pengembangannya juga harus diarahkan pada sektor-sektor unggulan Bulukumba, seperti hilirisasi kelapa, rumput laut, perikanan, peternakan, pertanian, industri maritim berbasis Pinisi, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Dengan demikian, lahirnya pengusaha baru menjadi bagian dari strategi besar hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan perekonomian daerah.
Keberhasilan gerakan ini tidak boleh diukur dari banyaknya pelatihan atau sertifikat yang disebarluaskan. Tolok ukurnya adalah berapa banyak usaha yang mampu bertahan, naik kelas, menyerap tenaga kerja, meningkatkan omzet, membayar pajak, serta berhasil menembus pasar nasional maupun ekspor.
Bulukumba tentu tetap membutuhkan investor besar. Kita memerlukan kawasan industri, pelabuhan niaga, infrastruktur logistik yang memadai, serta iklim investasi yang semakin kompetitif. Namun, investasi dari luar akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar jika didukung oleh ribuan pengusaha lokal yang tangguh sebagai pemasok bahan baku, mitra produksi, distributor, maupun bagian dari rantai pasok industri.
Pada akhirnya, investasi terbaik bukan hanya modal yang datang dari luar daerah. Investasi terbaik adalah investasi pada manusia—membangun karakter, kompetensi, keberanian, kepemimpinan, dan semangat kewirausahaan agar semakin banyak generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar mencari kerja.
Sudah saatnya Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai daerah pencetak pengusaha, pusat lahirnya industri berbasis potensi lokal, serta contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan dalam masyarakat membangun ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Kerjasama Bapperida, Fisip Unhas Diseminasi Hasil Penelitian Tata Kelola Pelestarian Pinisi
Mencetak 1.000 pengusaha baru setiap tahun bukan sekedar program, melainkan strategi pembangunan ekonomi jangka panjang. Ketika target ini dijalankan secara konsisten, sesungguhnya Bulukumba sedang membangun fondasi ekonomi untuk 20 hingga 30 tahun ke depan. Sebab, daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang hanya kaya sumber daya alam, melainkan daerah yang kaya akan pengusaha yang mampu mengubah tambah potensi menjadi nilai, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Mari kita jadikan Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai daerah pencetak pengusaha, pusat pertumbuhan industri berbasis potensi lokal, dan rumah bagi perusahaan-perusahaan yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global. Sebab, setiap pengusaha baru yang lahir bukan sekadar membuka sebuah usaha, melainkan menyalakan harapan, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan perekonomian, dan mewariskan masa depan Bulukumba yang lebih mandiri, lebih maju, dan lebih sejahtera bagi generasi yang akan datang.
Artikel ini ditulis oleh: Syafruddin Mualla
Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Ketua Umum FKPB (Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba)