Bernadya: Dari Refleksi Jadi Prestasi?

photo author
Hanifa Prawira, Tinjau Indonesia
- Jumat, 6 Desember 2024 | 18:45 WIB

TINJAUINDONESIA.ID - Bernadya Ribka Jayakusuma, atau yang akrab disapa Bernadya merupakan penulis lagu sekaligus penyanyi genre Indonesian Pop yang saat ini sedang naik daun. Awal kariernya dimulai pada 2016 sebagai peserta The Voice Kids Indonesia dan bagian dari grup musik duo Celine & Nadya pada tahun 2018.

Di tahun 2024 ini, muncul beberapa istilah penggemar garis keras Bernadya yang muncul meramaikan hiburan musik Indonesia, yaitu “Bernadya Supremacy” dan “Waktu Indonesia Bernadya”. Hal tersebut ditandakan sebagai naik daunnya karier Bernadya salah satunya lewat rekor jumlah pendengar bulanan terbanyak di Spotify yaitu sebesar 15 juta pada September 2024. Bernadya menjelaskan bahwa album Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan menjadi refleksi dari perjalanan emosional yang telah dia lalui. Karena itu, dia berencana untuk melanjutkan perjalanan baru di album berikutnya.

Baca Juga: Kesehatan Mental Remaja Indonesia: Masalah yang Terabaikan

Bernadya dikenal melalui lagu yang lirik-liriknya mencerminkan pengalaman emosional percintaan yang mendalam. Lagu-lagu seperti "Satu Bulan" dan "Kini Mereka Tahu" mengangkat tema mengenai kesulitan seseorang untuk melepaskan hubungan yang tidak sehat, ketidakpastian dalam hubungan, serta perasaan kehilangan, dan diabaikan. Hal tersebut mencerminkan dinamika masalah keterikatan, di mana seseorang mungkin merasa cemas atau menghindar dalam hubungan romantis mereka.


Contohnya, dalam lagu "Satu Bulan", Bernadya menceritakan tentang ketidakstabilan emosi setelah berpisah, di mana satu pihak masih terjerat perasaan sementara yang lain terlihat telah melanjutkan hidup. Ini mencerminkan sifat keterikatan yang tidak stabil, seperti kekhawatiran tentang penggantian atau ketakutan ditinggalkan. Sementara itu, "Kini Mereka Tahu" menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa perlu menciptakan ilusi tentang hubungan mereka agar terlihat ideal di mata orang lain.


Dampak lagu-lagu ini pada pendengarnya diperkuat oleh gaya minimalis Bernadya yang mendorong introspeksi. Dengan lirik yang digambarkan dengan cerita perjalanan sebuah hubungan, pendengar diberikan kesempatan untuk menafsirkan pengalaman pribadi mereka, yang menurut teori refleksi diri dalam psikologi, dapat mendukung proses penyembuhan emosional dengan mengenali masalah serta kondisi apa yang dialami langsung oleh seseorang. Dalam konteks ini, musik Bernadya berfungsi bukan hanya sebagai musik yang dinikmati, tetapi juga sebagai alat untuk melakukan introspeksi dan refleksi guna memahami serta mengolah emosi yang rumit.


Ketenaran Bernadya di antara kaum muda juga didorong oleh media sosial, di mana para pendengar secara aktif membuat konten terkait musiknya, seperti video di platform TikTok yang mengekspresikan interpretasi pribadi terhadap lirik. Interaksi ini membangun hubungan emosional yang mendalam antara lagu dan pendengarnya, sering kali memperkuat ikatan mereka dengan tema keterikatan yang tersampaikan. Tidak heran, dengan keterikatan yang mendalam lewat lagunya, Bernadya berhasil meraih tiga penghargaan pada AMI Awards 2024 sekaligus, yaitu kategori "Album Terbaik Terbaik", "Album Pop Terbaik", dan "Pencipta Lagu Pop Terbaik. Selamat, Bernadya!***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanifa Prawira

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terpopuler

X