Heboh Isu 522 Pelajar di Sidoarjo Positif HIV, Dinkes hingga Wagub Jatim Buka Suara

photo author
Muh. Ashar, Tinjau Indonesia
- Jumat, 24 Juli 2026 | 15:32 WIB
Foto ilustrasi: Update isu 522 anak pelajar di Sidoarjo positif HIV. (Freepik/jcomp)
Foto ilustrasi: Update isu 522 anak pelajar di Sidoarjo positif HIV. (Freepik/jcomp)

TINJAUINDONESIA.ID, – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar di media sosial mengenai klaim 522 pelajar di Sidoarjo, Jawa Timur, terjangkit HIV/AIDS. Pemerintah menegaskan bahwa angka tersebut tidak sesuai dengan data resmi yang dimiliki.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, menjelaskan bahwa berdasarkan catatan sejak tahun 2001 hingga pertengahan 2026, jumlah kasus HIV/AIDS pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun tercatat sebanyak 60 kasus.

Dari jumlah tersebut, tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 53 lainnya masih menjalani pengobatan dan pendampingan secara rutin.

“Sebanyak tujuh orang telah meninggal dunia, sehingga saat ini terdapat 53 penyintas yang masih mendapatkan perawatan dan pendampingan,” ujar Lakhsmie saat memberikan keterangan di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Kamis (23/7/2026).

Selain kelompok usia remaja, Dinkes juga mencatat terdapat 117 kasus HIV pada anak usia 0 hingga 10 tahun selama periode 2001–2026. Dari angka tersebut, 35 anak telah meninggal dunia, 50 anak berstatus lost to follow up atau tidak lagi terpantau, dan 32 anak masih menjalani pengobatan secara berkala.

Lakhsmie menjelaskan bahwa status lost to follow up tidak selalu berarti pasien meninggal dunia, tetapi bisa juga karena berpindah domisili atau faktor lainnya yang menyebabkan tidak lagi terpantau oleh layanan kesehatan.

Baca Juga: Kepala BGN Sudaryono Sidak Dapur MBG di Bogor, Tegaskan SPPG Tak Sesuai Standar Akan Ditutup

Isu mengenai ratusan pelajar yang terjangkit HIV sempat ramai diperbincangkan setelah beredar unggahan di media sosial yang menyebut sebanyak 522 anak dan remaja di Sidoarjo terpapar HIV, termasuk siswa PAUD, TK, SMP, dan SMA.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa persoalan HIV/AIDS memang perlu mendapat perhatian serius, namun masyarakat juga harus memahami informasi berdasarkan data yang valid.

Menurut Emil, kasus HIV bukan persoalan baru dan selama ini telah menjadi perhatian pemerintah melalui koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

“Kasus HIV di Sidoarjo bukan isu yang baru muncul. Penanganan dan koordinasi telah dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait,” katanya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Terintegrasi Bali Mulai Beroperasi, Fasilitas Pendidikan dan Asrama Siap Dukung MPLS

Emil menambahkan bahwa penderita HIV membutuhkan layanan kesehatan dan pendampingan jangka panjang. Selain itu, upaya pencegahan penularan juga memerlukan peran aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa faktor penyebab penularan HIV dapat beragam, mulai dari perilaku berisiko hingga penyalahgunaan narkoba. Karena itu, pengawasan dan edukasi kepada generasi muda harus terus diperkuat.

“Sekolah memiliki peran penting dalam pembinaan anak, namun keluarga juga harus menjadi mitra utama untuk memastikan anak-anak terhindar dari perilaku yang berisiko,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muh. Ashar

Rekomendasi

Terkini

X