TINJAUINDONESIA.ID — Dalam rangka Kegiatan Penguatan Pembelajaran Program Bantuan Pemerintah Proyek Kreatif dan Kewirausahaan Tahun 2026, SMKS Antartika 2 Sidoarjo menggelar "Workshop Riset Pasar dalam Pengembangan Kewirausahaan Murid SMK" pada Kamis (2/7/2026). Acara ini menghadirkan kolaborasi tokoh pendidikan, praktisi bisnis, dan pemimpin jaringan media untuk membekali para siswa.
Kepala SMK Antartika 2 Sidoarjo, Retno Purwolystiorini, S.E., M.M.Pd., menyatakan kebanggaannya terhadap para siswa yang memiliki keinginan kuat untuk berwirausaha di bidang keahliannya masing-masing.
"Kalian luar biasa hebat dengan segala kemampuan yang telah diperoleh dalam proses pengembangan produk selama ini," puji Retno.
Ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pencerahan kepada para peserta didik mengenai hal-hal yang perlu disiapkan dalam pengelolaan usaha secara terstruktur.
"Menjadi wirausahawan itu tidak harus menunggu usia matang, asalkan semuanya diatur dengan baik, tidak ngawur atau asal menabrak, karena semuanya harus ada riset pasarnya," tegasnya.
Memasuki sesi materi manajerial bisnis, Direktur Utama Macroscope, Osman Nur Chaidir, memaparkan bahwa bisnis layaknya sebuah siklus kehidupan yang akan selalu melewati fase naik dan turun.
"Banyak bisnis yang tidak bertahan di masa depresi karena tidak tersedianya pasar, pengelolaan uang yang buruk, serta perpecahan tim," ungkap Osman.
Ia menekankan bahwa ketiga penyebab utama kebangkrutan tersebut pada dasarnya berakar dari masalah sumber daya manusia, sehingga membutuhkan perencanaan matang dengan prinsip SMART.
"Penentuan orientasi bisnis sangat vital di awal pendirian karena hal ini akan selaras dengan visi owner ke depan," tambahnya.
Menyambung pemaparan tersebut dari perspektif digital dan tren media, Sekretaris Jaringan Pemred Promedia (JPP) Jawa Timur, Arvendo Mahardika, menjelaskan bahwa langkah krusial sebelum memulai eksekusi bisnis adalah memvalidasi kebutuhan target pasar.
"Jangan sampai kalian bikin produk dulu, tapi bingung jualnya nanti karena tidak ada pasarnya," ujar pria yang juga Pemimpin Redaksi AboutMalang.com ini.
Ia juga menekankan kepada para siswa pentingnya memahami Generative Engine Optimization (GEO) agar konten produk mereka mudah disintesis dan direkomendasikan oleh mesin pencari kecerdasan buatan.
"Nggak perlu bikin fitur yang ribet kalau user cuma butuh yang simpel dan tepat guna," pungkas sosok yang juga dosen Bisnis Digital di Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM) ini.